SELAMAT DATANG DI BLOG MARGHARETA

SELAMAT DATANG DI BLOG MARGHARETA

Jumat, 14 Mei 2010

PROPOSAL MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATERI LETAK DAN LUAS WILAYAH INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GLOBE DI KELAS V SDN 15 TILAMUTA KABU


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pembelajaran IPS merupakan salah satu mata pelajaran dalam kurikulum sekolah dasar yang diajarkan mulai dari kelas I sampai kelas VI. IPS memuat tentang ilmu sosial yang pada hakekatnya mengantarkan anak didik agar memiliki rasa sosial tinggi dalam kehidupannya.
Ilmu sosial dalam arti luas dapat mengetahui keragaman bangsanya, keragaman budayanya serta sejarah bangsanya. Pembelajaran IPS dirancang untuk membimbing dan merefleksikan kemampuan siswa dalam kehidupan bermasyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang terus menerus.Hal ini merupakan tantangan yang sangat berat mengingat masyarakat global yang selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu diperlukan suatu pengembangan kreatifitas guru dalam mengajar.
Pengembangan kreatifitas dan kemampuan guru diharapkan adalah untuk menghindari permasalahan yang muncul dari pada diri siswa selama mengikuti pembelajaran IPS, karena melalui pembelajaran IPS ini diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan dan sikap yang rasional tentang gejala gejala sosial serta perkembangan masyarakat indonesia dan dunia,baik di masa lampau dan masa kini maupun masa yang akan datang maka dalam pembelajaran IPS guru harus menciptakan suasanan belajar yang menyenangkan dan penuh hiburan bagi siswa.
Dalam kegiatan pembelajaran IPS yang menyenangkan guru harus menyediakan media belajar yang menarik minat belajar sehingga siswa tidak merasa bosan selama mengikuti pembelajara, antara lain dengan penggunaan media.
Menyinggung tentang media pembelajaran kita harus menggunakan media pembelajaran tersebut dengan benar dan tepat untuk menunjang proses belajar mengajar yang kita laksanakan. Dalam hal ini media yang tepat dapat merangsang siswa dapat lebih mengerti dan memahami materi yang diajarkan.
Menurut Gagne ( dalam Amidun Rasyad dan Darhim, 1996 – 1997:97 ) “ media adalah jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar “.
Hal ini menunjukkan bahwa dengan penggunaan media pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran maka hasil belajar terutama pada mata pelajaran IPS, sehingga materi pelajaran mudah diserap oleh siswa, karena dengan menggunakan media dapat mempermudah pemahaman belajar anak dalam pencapaian tujuan pengajaran.
Media pembelajaran yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah media yang digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar pada mata pelajaran IPS terutama pada materi letak wilayah Indonesia. Adapun media tersebut adalah media globe. Media globe adalah tiruan dari pada bentuk bumi. Dalam penggunaan globe anak- anak perlu mempersiapkan diri secara mental, memperoleh informasi yang dibutuhkan,bila perlu mendiskusikan hasilnya.
Kenyataan yang ada bahwa penggunaan media oleh guru belum sesuai dengan apa yang diharapkan,ini dapat dilihat dari belum objektif dan efisien penggunaanya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan guru dalam memilih media yang tepat serta kurangnya keterampilan guru untuk memanfaatkan media globe. Hal ini berpengaruh pada hasil belajar siswa rendah.
Sesuai hasil observasi awal bahwa nilai rata- rata IPS khususnya kelas V SDN 15 Tilamuta dibawah yaitu hanya 25% yang memproleh nilai 70 ke atas sedangkan 75% di bawah 70.
Berdasarkan hasil uraian di atas maka penulis terdorong untuk meneliti masalah tersebut dengan judul “ Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Materi Letak Dan Luas Wilayah Indonesia Dengan Menggunakan Media Globe Pada Pembelajaran IPS di Kelas V SDN 15 Tilamuta Kabupaten Boalemo.

1.2. Cara Pemecahan Masalah
Untuk meningkatkan pemahaman belajara siswa terhadap penggunaan globe, langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam memecahkan masalah ini yaitu :
• Merencanakan pembelajaran yaitu menyusun rencana pembelajaran dan menyusun valuasi pembelajaran.
• Meilih materi yang akan diajarkan yaitu letakwilayah-wilayah Indonesia
• Menetapkan metode yang tepat dalam pembelajaran materi tersebut.
• Memilih media pembelajaran yang tepat yaitu globe.

1.3. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ apakah penggunaan media globe dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V khususnya pada materi letak dan wilayah Indonesia?”.

1.4. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi letak dan luas wilayah Indonesia pada pembelajaran IPS kelas V SDN 15 Tilamuta dengan menggunakan media globe.

1.5. Manfaat Penelitian
a. Untuk Sekolah : Sebagai sumbangan pemikiran kepala sekolah dijadikan objek penelitian khususnya kelas V sehubungan pembelajaran IPS dengan menggunakan globe
b. Untuk Guru : sebagai masukan dalam menentukan media yang menarik perhatian siswa dalam setiap pembelajaran khususnya media globe.
c. Untuk Siswa : dapat meningkatakan pemahaman siswa dalam pembelajaran IPS khususnya pokok bahasan letak wilayah Indonesia
d. Bagi peneliti : penelitian akan menambah pengalaman dalam menentukan cara yang dilakukan dalam kegiatan belajar IPS agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik.

BAB II
KAJAIN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

2.1. Hakekat Belajar.
Berbicara tentang belajar pada dasarnya berbicara tentang bagaimana tingkah laku seseorang berubah sebagai akibat pengalaman dari pengertian di atas dapat dibuat kesimpulan bahwa istilah belajar berhubungan erat dengan mengajar dan pembelajaran terjadi bersama- sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Sedangkan mengajar meliputi beberapa hal yang guru lakukan di dalam kelas. Duffy dan Roerlher (1989) mengatakan apa yang dilakukan guru agar proses belajar mengajar berjalan lancar, bermoral dan membuat siswa dapat merasa nyaman dan merupakan bagian dariaktifitas mengajar. Juga secara khusus mencoba dan berusaha untuk mengimplementasikan.

2.1.1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan manusia untuk mengerti dan memahami suatu yang baik untuk kepentingan diri maupun untuk kepentingan masyarakat. Dengan demikian belajar merupakan tuntutan mutlak bagi manusia.
Jika ditinjau dari operkembangan teori yang ada, belajar merupakan hal yang kompleks sehingga tidak dapat dikatakan dengan pastri apakah sebenarnya yang dimaksud denganm belajar itu. Hal ini terbukti dengan adanya perbedaan pendapat dan tafsiran para ahli dalam menafsirkan pengertian belajar. Perbedaan ini bertolak dari penekananan yang mereka berikan dalam proses dan kegiatan belajar.
Menurut pendapat Nana Sudjana ( 1989 : 19 ) bahwa pengertian belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang yang disadarinya. Pendapat ini menandakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan pada setiap individu yang terjadi berkat hasil unsur kesengajaan.
Sementara menurut Hugard ( 1980: 112) bahwa belajar adalah merupakan suatu proses timbulnya/ perubahan tingkah laku seseorang melalui latihan dan dibedakan dari perubahan oleh faktor-faktor yang tidak dapat digolongkan sebagai latihan.
Dari pendapat ini jelas bahwa perubahan yang dimaksud dengan hasil belajara adalah perubahan yang diperoleh melalui pengalaman dan latihan, bukan perubahan dengan sendirinya seperti pertumbuhan dan kematamngan fisik. Disamping itu Lester D.Crow And Alice Crow (www.google.com) berpendapat bahwa belajar adalah Acuquition of habits,knowledge and atitude. Belajar adalah upaya-upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan pengtahuan, dan sikap.
Sedangkan menurut Hudgins Cs ( 1982,www.google.com) belajar adalah suatu perubahan tingkah laku, yang mengakibatkan adanya pengalaman. Selanjutnya menurut Ngalin Purwanto ( 1992,www.google.com) belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku, yang terjadi asebagai hasil dari suatu latiihan tatau pengalaman.
Dari beberapa pengertian belajar para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah lakunya baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu.
Belajar adalah suatu proses didalam kepribadian manusia, perubahan tersebut ditempatkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas.
Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Margaret Gredler, terj Munandar, (1994; 1) belajar peserta didik dapat mengetahui hal-hal yang baru dan dapat meningkatkan pengetahuan yang dimilikinya, mengubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang salah menjadi benar, dan dari kurang baik menjadi baik. Seperti yang dikatakan oleh Riberu, bahwa belajar merupakan proses dan dalam proses ini orang berkenalan dengan salah satu pola lajkuatau memperbaiki salah satu pola laku yang telah dikuasainya. Riberu, (1982 :10). http://google.com//peserta_didik.html.
Selain itu Riberu juga mengatakan, belajar bisa berarti berkenalan dengan atau memperbaiki pemikiran, berkenalan dengan atau memperbaiki turturan bicara, berkenalan dengan atau memperbaiki tindakan/kegiatan. Riberu, 1982; 11)
Belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku interaksi individu dengan lingkungan. Oemar Hamalik (2003 : 151) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif matang berkat latihan dan pengalaman. Sejalan sengan itu Sardiman (2004:2) menyatakan bahwa belajar adalah usaha mengubah tingkah laku.
Hilhard Bower dalam buku Theories of Learning (1975). Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan kematangan.
Belajar bisa melalui pengalaman melibatkan peserta didik secara langsung dalam masalah atau isu yang dipelajari. Sehingga peserta didik dapat lebih aktif dan menerima pelajaran dengan baik. Bukan sebaliknya cepat jenuh, dan bosan. Belajar aktif dan menyenangkan (biasa dikenal dengan ‘Learning/ Learning by Fun’) dapat menstimulus kreativitas peserta didik dalam proses belajar.
Dengan kata lain, belajar merupakan suatu upaya untuk memperbaiki, mengembangkan, bahkan meningkatkan kemampuan afektif, psikomotorik, dan kinestetik peserta didik. Kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik harus seimbang antara otak kanan dan kiri. Untuk mencapai hal tersebut, sebaiknya proses belajar tidak hanya dilaksanakan dengan metode konservatif (ceramah/DDCH  Duduk, dengar, catat, dan hafal), tetapi juga metode-metode lain yang dapat merangsang keaktifan peserta didik.
Dari beberapa definisi belajar diatas bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku, dan ini tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi ada yang sengaja direncanakan dan ada yang sendirinya terjadi karena proses kematangan.
Proses yang sengaja direncanakan agar terjadi perubahan perilaku disebut dengan proses belajar. Perubahan-perubahan perilaku ini merupakan hasil belajar yang cukup Ronah Kognitif, Ronah Efektif, dan Ronah Psikomotor.

2.1.2. Fungsi Belajar
Fungsi belajar menurut Nasution (2003:4) untuk memperoleh kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Funsi belajar merupakan proses aktif dari siswa dalam membangun pengetahuan, bukan hanya proses pasif yang menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga jika pembelajaran tersebut tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Keterampilan yang memproses hasil belajar berupa konsep dan fakta yang sudah diperoleh itu, untuk mengembangkan diri, untuk menemukan sesuatu yang sangat penting. Dengan konsep dan fakta yang telah dipahami betul, dapat di proses untuk menguasai dan menemukan fakta dan konsep yang lebih banyak. Winartapura (1997 : 82- 84), pemberian konsep dan fakta yang terlalu banyak, dapat menghambat kreativitas siswa. Tidak menguasai semua konsep dalam semua ilmu, namun siswa mempunyai kemampuan dasar untuk mengembangkan konsep dan fakta yang terbatas itu, sehingga mereka mampu menciptakan atau menemukan sesuatu yang baru.

2.1.3. Tujuan Belajar
Djamarah !1996: 35) pada hakekatnya tujuan belajar dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu umum dan khusus.
Tujuan Umum.
1. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang sellau berkembang melalui latihan bertindak aas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur dan efektif.
2. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan pola pikir dalam kehidupan sehari- hari dan dalam mempelajari ilmu pengetahuan,
Tujuan Khusus.
1. Menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat di alih gunakan, melalui kegiatan sehari- hari.
2. mengembangkan kemampuan dalam berbagai pengetahuan sebagai bekal belajar lebih lanjut d SLTP.
3. Membentuk sikap logis, kritis, cermat dan disiplin.

2.1.4. Pengertian Pemahaman Belajar.
Azis Wahab, (2007: 80) mendefinisikan “ Pemahaman adalah kemampuan untuk memahami ide- ide yang di ekspresikan dengan kata- kata atau bunyi atau symbol, serta kemampuan untuk bernalar”. Selanjutnya Bloom (dalam Uzer, 2006: 35) menjelaskan pemahaman mengacu pada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berpikir yang rendah.
Sanjaya, (2007: 182) mengemukakan bahwa pemahaman adalah kesediaan jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar. Pengertian pemahaman tersebut mengandung arti bahwa pemahaman melibatkan unsure batin atau jiwa seseorang yang mencerminkan keinginan untuk melakukan aktivitas.
Dunia gurucom/index-php/20 Mey 2009, pemahaman adalah perubahan proses mental internal yang orang gunakan dalam usaha mereka membuat dunia ini dapat dimengerti.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian pemahaman berarti maklum, mengerti dan mengetahui sesuatu melalui aktivitas mental social yang dimiliki individu dalam usaha mereka memahami kehidupan ini secara menyeluruh.

2.1.5. Pengertian Hasil Belajar
Sagala (2003: 72) tahap- tahap pemahaman pada diri individu dibagi dalam 4 hal yakni:
a). Tahap Reseptif
Pemahaman reseptif adalah tahap pemahaman dimana penggunaan informasi dalam bentuk apa diterima tanpa mengubah susunan atau artinya. Pemahaman reseptif dapat penuh arti bagi siswa sepanjang tidak didasarkan pada hafalan materi pelajaran tanpa usaha mengerti artinya. Tugas siswa dalam hal ini adalah menginternalisasi materi pelajaran yang telah disiapkan oleh guru dengan baik.


b). Tahap Penemuan
Pemahaman penemuan adalah cara pemahaman dimana siswa harus menemukan apa yang dipelajari dan kemudian mengatur kembali materi yang dipelajari untuk mengintegrasikannya dengan struktur kognitif yang sudah ada. Jadi pemahaman penemuan ini termasuk pemahaman penemuan maka yang dikembangkan berdasarkan psikologi kognitif.
c). Tahap Hafalan
Pemahaman hafalan adalah pemahaman dengan menghafal materi pelajaran tanpa usaha mengetahui artinya. Akibat pemahaman hafalan ini antara lain adalah verbalisme, yaitu tahu kata tapi tidak tahu artinya.
d) Tahap Penuh Arti
Pemahaman penuh arti didefinisikan sebagai pemerolehan arti baru, atau mengandung arti bahwa materi yang dipelajari seperti secara potensi penuh arti bagi siswa. Perolehan arti baru itu menjadi penuh arti terjadi jika materi yang dipelajari berhubungan dengan hal- hal yang telah diketahui siswa.
Pemahaman belajar taksonomi menurut Bloom dibagi atas 3 lapangan, kognitif,afektif, dan psikomotor. Lapangan kognitif meliputi tujuan-tujuan yang berhubungan dengan berpikir, mengetahui dan memecahkan masalah. Lapangan afektif mencakup tujuabn-tujuan yang berkaitanm dengan sikap, nilai, pemahaman dan apersepsi. Lapangan psikomotor meliputi tujuan-tujuan yang berhubungan dengan ketrampilan manual dan motorik.
Menurut Benyamin,pemahaman ( comprehension) diartikan sebagai kemampuan seorang dalam mengartikan, menafsirkan menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya ( dalam uno dkk,2004 : 1991 ). Sedangkan menurut curkhuff ( dalam tyler 1969) menggunakan istilah pemahaman yang empatik ( empatic understanding) untuk menyatakan pemahaman pembimbing atas klienya ( dalam erman dan marjon,1992).
Berdasarkan definisi di atas maka dapat dikemukakan, bahwa hakekat pemahaman lebih dititik beratkan pada kemampuan seseoramng dalam mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan serta menyatakan kembali suatu pengetahuan kedalam kata- kata baru sesuai dengan caranya sendiri.

2.2. Letak Wilayah Indonesia
2.2.1. Wilayah Indonesia
1. Letak Astronomis
Letak astronomis suatu Negara adalah posisi letak yang berdasarkan garis lintang dan garis bujur. Garis lintang adalah garis hayal yang melingkari permukaan bumi secara horizontal, sedangkan garis bujur adalah garis hayal yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan. Letak astronomis Indonesia terletak diantara 6°LU-11°LS dan 95°BT-141°BT. Berdasrkan letak astronomisnya Indonesia dilalui oleh garis equator, yaitu garis khayal pada peta atau globe yang membagi bumi menjadi dua bagian yang sama besarnya. Garis equator atau garis khatulistiwa terletak pada garis lintang 0°.
2. Letak Geografis
Letak geografis adalah letak suatu daerah atau wilayah dilihat dari kenyataan dipermukaan bumi. Berdasarkan letak geografisnya, kepulauan Indonesia diantara Benua Asia dan benua Australia, serta diantara Samudra Hindia dan sanudra Fasifik. Dengan demikian wilayah Indonesia berada pada posisi silang, yang mempunyai arti penting dalam kaitanya dengan iklim perekonomian.

3. Letak Geologis
Letak geologis adalah letak suatu wilayah dilihat dari jenis batuan yang ada dipermukaan bumi. Secara geologis wilayah Indonesia dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia yaitu pegunungan Mediterania di sebelah barat dan peunungan sirkum pasifik disebelah timur. Adanya dua jalur pegunungan tersebut menyebabkan Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif dan rawan terjadinya gempa bumi.

2.2.2 Kepulauan Indonesia
Negara kita adalah Negara kepulauan. Wilayahnya membentang dari sabang sampai merauke. Negara kita terdiri dari beribu-ribu pulau. Menurut catatan dinas Hidro oceanografis Hidro oceanografis angkatan laut Republik Indonesia tahun 1990.(www.edukasi.net ), jumlahnya sekitar 17.508 buah pulau. Diantaranya 931 buah pulau elah dihuni penduduk,sedangkan sisanya bellum berpenghuni.
Sebagai Negara kepulauan, wilayah Indonesia dikelompokkan menjadi empat gugusan pulau, yaitu sebagai berikut :
1. Gugusan kepulauan sunda besar , yan terdiri atas Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau kecil disekitarnya.
2. Gugusan kepulauan Nusa Tengara Terdiri atas pulau Bali, Lombok, Sumba, Sumbawa, flores, timor, Sabu, Roti, Solor, A;lor, dan pulau-pulau kecil disekitarnya.
3. Gugusan kepulauan Maluku, terdiori atas pulau Halmahera, ternate, Tidore ,Seram, Buru, kepulauan Aru, dan pulau-pulau sekitar lainya.
4. Irian Jaya dan pyulau kecil disekitarnya antara lain : Pulau Biak, Waigeo, Salawai, Missol, Yos Sudarso dan pulau-pulau kecil lainya.
Adanya gugusan pulau-pulau tersebut menunjukkan sangat panjangnya garis pantai yang kita miliki yaitu lebih dari dua kali keliling bumi dan 16 kali dari sabang sampai merauke.

2.3. Pengertian Media.
Media merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media secara khusus diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi dari satu sumber kepada penerima. Dikaitkan dengan pembelajaran, media dimaksud sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari pengajar epada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Media merupakan wahana penyuluh informasi belajar atau penyalur pesan berupa materi ajar oleh guru kepada siswa menjadi lebih dengan pembelajaran yang dilakukan. Media sengaja dilakukan dengan leluasa, akalanya kita harus membuat sendiri.
Menurut Rahadi Aristi ( 2004:7) “ Media umumnya adalah segala sesuatu yuang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.
Istilah media ini sangat popular dalam bidang komunikasi, proses belajar mengajara pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media dalam pembelajaran disebut sebagai media pembelajaran.
Untuk memberikan pembendaharaan Gariach dan Ely ( 1997 : 17) membagi pengertian media dalam tiga hal pertama, media pengajaran meliputi orang, bahan atau kegiatan yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan keterampilan dan sikap. Kedua, bahwa media pengajaran hanya meliputi bahan, peralatan dan tehnik, ketiga arti media pengajaran lebih dikhususkan lagi, yaitu hanya Mencakup bahan-bahan dan peralatan yang digunakan dalam suatu pengajaran.
Sementara itu, Martin R.Wong dan John D.Raulerson ( dalam Al-Hakim 1983:17) menegaskan bahwa “ The Medium is we means or Hardware used to present stimulus information to the learner. ( Media merupakan alat yang menghubungkan message pengetahuan, ketrampilan dan sikap terhadap peserta didik.)
Sedangkan menurut MC Luchan ( Dalam Basuki Wibawa dan Farida Mukti,1992:7) “ Media adalah membawa pesan berasal dari suatu sumber kepada penerima pesanan “. Selanjutnya menurut Asosiasi Teknologi dan komunikasi pendidikan( dalam Arie 1986:6)” Media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.
Dengan memperhatikan definisi dari media di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa peranan media pendidikan adalah alat yang digunakan untuk menjembatani tujuan pengajaran yang ingin dicapai melalui sesuatu yang dianggap bisa memudahkan siswa dalam penerima pelajaran.

2.3.1 Fungsi Media Dalam Pembelajaran
Media pendidikan yang disebut Audio Visual Encyclomedia of education Reseach ( Dalam Muhamad,1992: 27) memiliki fungsi dan nilai sebagai berikut :
1. Meletakkan dasar-dasar kongkrit untuk berpikir
2. Memperbesar perhatian jiwa
3. Membuat pelajaran lebih mantap
4. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menimbulkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan para siswa.
5. Menumbuhkan pemikiran teratur dan kontinyu
6. Membantu tumbunhya pengertian membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
7. Sangat menarik minat siswa dalam belajar.
2.3.2. Manfaat Media dalam Pembelajaran
Manfaat media dalam pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehhhingga kegiataaan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.
Tetapi secara khusus ada bebrerapa manfaat media yang lebih rinci. Kemp dan Dayton( Dalam Rahadi,2004:13) mengidentiiifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diperagakan setiap guru mungkin mempunyai penafsiran yang berbeda-beda terhadap suatu konsep materi pelajaran tertentu. Dengan bantuan media, penafsiran yang beragam itu dapat dihindari sehingga dapat disampaikan kepada siswa secara beragam, setiap siswa melihat atau m,endengarkan uraian suatu materi pelajaran melalui media yang sama seperti yang diterima siswa yang lain.
2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik.potensi yang dimiliknya
Dengan berbagai potensi yang dimilikinya, media dapat menam,pilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna baik secara alami, maupun manipulasi, materi pelajaran yang dikemas melalui program media, akan lebih jelas, lengkap dan menarik siswa.
3. Proses pembelajaran lebih interaktif
Jika dipilih dan dirancang secara baik meeedia dapat membantu guru dan siswa melakukan komunikasi dua arah secara aktif selam proses pembelajaran. tanpa media, seorang guru mungkin akan cenderung berbicara satu arah kepada siswa. Namun dengan media, guru dapat mengatur kelas sehingga bukan hanya guru sendiri yang aktif tetapi juga siswanya.
4. Efisiensi dalam Waktu dan Tenaga
Keluhan yang selama ini kiita dengar Dari guru adalah selalu kekuranagan waktu untuk mencapai target kurikulum. Seringkali guru menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan suatu materi pelajaran. Hal ini, sebenarnya tidak harus terjadi jika guru dapat memanfatkan media secara maksimal. Misalnya, tanpa media seorang guru tentu saja akan menghabiskan waktunya untuk menjelaskan system peredaran darah manusia.
5. Meningkatkan kualitas hasil belajar
Penggunaan media bukan hanya membuat proses pembelajaran lebih efisien tetapi juyga membantu siswa menyerap materi belajar lebih mendalam dan utuh.
6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.
Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian ru[pa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara lebih leluasa kapanpun dan dimanapun, tanpa tergantung pada keberadaan seorang guru.
7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar.
8. Mengubah peran guru kearah yang lebih positif dan produktif. Dengan memanfaatkan media secara lebih baik, seorang guru tidak perlu menjelaskan seluruh materi pelajaran, karena bisa berbagi peran media. Dengan demikian guru akan lebih banyak memiliki waktu untuk memberi perhatian kepada aspek-aspek edukatif lainya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan memotivasi belajar.

2.3.3 Prosedur Penggunaan Media Pembelajaran
Telah diuraikan sebelmnya bahwa pembelajaran seharusnya dipilih secara sistematis, agar dapat digunakan secara efektif dan efisien.
Ada tiga hal pokok dalam prosedur penggunaan media yang perlu diketahui yaitu sebagai berikut :
1. Persiapan
Langkah ini dilakukan sebelum menggunakan media . ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan agar penggunaan media dapat dipersiapkan dengan baik, yaitu buku pelajaran, buku petunjuk atau bahan penunjang lainya. Kemudian diikuti petunjuk didalamnya, siapkan pelajaran yang diperlukan untuk menggunakan media yanmg dimaksud,tetapkan apakah media tersebut digunakan secara individual atau kelompok, yakni bahwa semua peserta dapat melihat, mendengar pesan-pesan pengajaran yang baik.
2. Pelaksanaan
Satu hal yang perlu diperhatikan selama menggunakan media pengajaran yaitu, hindari kejadian-kejadian yang dapat mengganggu ketenangan,perhatian dan konsentrasi peserta.


3. Tindak lanjut
Kegiatan ini bertujuan untuk memantapkan pemahaman peserta didik terhadap pokok-pokok materi atau pesan pengajaran yang hendak disampaikan melalui media tersebut, selanjutnya pada beberapa media dilengkapi dengan evaluasi maka langkah ini dimaksud pula untuk melihat tercapai atau tidaknya tujuan yang ditetapkan, karena tindak lanjut ini ditandai dengan kegiatan diskusi, tes, percobaan, observasi, latihan, remediasi dan pengayaan.

2.3.4. Macam-Macam Media Yang Digunakan Pada Pembelajaran IPS
Media yang sering digunakan pada pembelajaran IPS selain globe adalah sebagai berikut :
1. Peta Politis-fisik
Peta politis-fisik menggambarkan hubungan tertentu antara satu daerah dengan penghuninya. Misalnya sedikitnya kota-kota besar yang terletak dipegunungan dapat dilihat pada peta politis-fisik. Contoh peta ini dapat ditemukan di sekolah-sekolah.
2. Peta Timbul
Peta timbul merupakan model yang realistis ari suatu daerah dalam bentuk tiga dimensi. Dalam peta ini perbedaan tinggi tanah dinyatakan dalam relief, makin kecil yang dipetakan, makin jelas dapat dilihat perbandingan tinggi rendahnya permukaan tanah.

3. Peta Buta
Peta buta adalah peta yang tidak memuat sebuah namapun. Peta buta untuk latihan mengingat nama, letak kota, gunung, sungai, laut, dan sebagian serta hubunganya satu sama lain.

2.3.5. Tujuan Penggunaan Media
Penggunaan media globe dalam proses belajar mengajar bertujuan antara lain sebagai berikut :
1. Memberi pengetahuan relative dan tetap tentang posisi unit politik, daratan dan wilayah perairan.
2. Melengkapi pengetahuan dan informasi tentang jarak, arah dan ukuran suatu wilayah.
3. Menambah arti dari suatru bahan deskripsi
4. Merangsang minat dalam bidang studi tentang kependudukan, geografis dan sebagainya.

2.3.6 Pemanfaatan Media Globe Pada Pembelajaran IPS
Manfaat media globe pada pembelajaran IPS untuk mengetahui letak provinsi atau tempat- tempat lain.
Media globe menggambarkan letak tempat-tempat di Indonesia yang digambarkan itu adalah pulau, laut, teluk, provinsi dan ibukota provinsi serta Negara-negara tetangga.
Pada globe juga terdapat garis-garis lurus mendatar, garis-garis itu dinamakan lintang-lintang sejajar satu sama lainya. Pada globe itu terdapat juga garis-garis membujur, dinamakan garis bujur. Semua bujur-bujur berpotongan dengan lintang. Jadi globe sangat bernmanfaat bagi pembelajaran IPS, dari globe kita dapat mengetahui batas-batas wilayah.

2.4. Hipotesi Tindakan
Yang menjadi hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “ jika dalam pembelajaran IPS khususnya materi letak wilayah Indonesia diajarkan dengan menggunakan globe maka pemahaman siswa akan meningkat”.

2.5. Indikator Kinerja
Yang menjadi indicator keberhasilan pada penelitian ini adalah minimal 70 % dati junmlah yang dikenai tindakan memperoleh nilai hasil belajar 70 keatas.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Setting Penelitian
3.1.1. Karakteristik Subjek Penelitian.
Penelitian tindaskan kelas ini dilaksanakan di kelas V SDN 15 Tilamuta Kabupaten Boalemo dengan subjek penelitian 32 orang siswa yakni laki- laki 20 orang dan perempuan 14 orang.

3.2. Prosedur Penelitian
3.2.1 Tahap Awal Persiapan
Persiapan- persiapan awal yang dilakukan pada tahap ini antara lain :
a. Penulis mengadakan dialog dengan kepala sekolah dan guru mitra.
b. Penulis menulis scenario pembelajaran sesuai dengan permasalahan yang meliputi indicator pencapaian dan bahan ajar.
c. Penulis bersama guru mitra menyusun instrument/ lembar observasi untuk memonitor kegiatan belajar mengajar.

3.2.2. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan dilakukan dalam pelaksanaan tindakan antara lain :
a. Melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar sesuai model pembelajaran yang telah direncanakan
b. Memantau kegiatan proses belajar mengajar
c. Mengadakan evaluasi pelaksanaan kegiatan
d. Menganalisis hasil belajar
e. Menetapkan kegiatan tindak lanjut.

3.2.3.Tahap Evaluasi dan Pemantauan
Tahap evaluasi dilaksanakan oleh penulis untuk melihat upaya guru dalam meningkatkan pemahaman siswa dengan menggunakan media pada mata pelajaran IPS. Faktor ini akan diklarifikasikan berdasarkan indikator yang telah ditentukan.

3.2.4. Tindakan Analisis dan Refleksi
Analisis dan refleksi ini dimaksudkan untuk menganalisis, memperbaiki dan meningkatkan hasil yang dicapai pada siklus sebelumnya. Selanjutnya analisis ini direlevansikan dengan hasil capaian peserta didik. Bila belum diketahui hasil belajar siswa maka penulis akan meneliti komponen-komponen kegiatan belajar mengajar yang perlu diperbaiki oleh guru pada siklus berikutnya.

3.3 Analisis Data
Dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan analisis data secara bertahap dan berkesinambungan pada akhir setiap siklus dengan menggunakan persentase.
DAFTAR PUSTAKA


Al-Hakim, S. 1983. Media Pengajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Malang: Proyek OPF IKIP malang.

…………..1986. Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar.
Amidun Rasyad. 1996. Media Pengajaran
Arif.S. Sadirman. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi. CV. Rajawali Jakarta.
Crow Alice and Lester D. Crow. Pengertian Belajar.www.geogle.com.
Erman dan Marjon. 1992. Pemahaman Belajar
Farida Mukti dan Basuki Wibaya.1992. Pengertian Media. Depdikbud, Jakarta.
Hamalik Umar, 1995. Pengertian Belajar. Jakarta.
Hidro Oceonografi Angkatan Laut RI, 1990 Letak Wilayah Indonnesia. www.
Edukasi.net.

Hudgins Cs,1992. Pengertian Belajar.www.geogle.com.

Purwanto Ngalim, 1992. Pengertian Belajar. www.geogle.com

Rahadi Aristo, Media Pembelajaran. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar, Jakarta.
Sudjana Nana, 1989. Pengertian Belajar. Bandung Tarsito.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar