SELAMAT DATANG DI BLOG MARGHARETA

SELAMAT DATANG DI BLOG MARGHARETA

Rabu, 09 Juni 2010

LAPORAN HASIL OBSERVASI MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME DIKELAS III SDN 1 DUNGGALA


VISI DAN MISI SEKOLAH


A. VISI
Mewujudkan sekolah yang berkualitas kompetitif dan inovatif berdasarkan imtek dan iptek.

B. MISI
1. meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada tuhan yang maha esa dengan mengefektifkan pendidikan
2. meningkatkan prestasi akademik dan non akademik sesuai dengan tuntutan masyarakat
3. menguasai ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi.
4. menumbuhakan dan melatih semangat religius disiplin dan sosial kepada masyarakat.
5. menyediakan lingkungan pendidikan yang dilengkapi dengan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai.


A. JUDUL PENELITIAN
Judul penelitian ini adalah “Penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak di kelas III SD Negeri 1 Dunggala Kabupaten Gorontalo”.

B. BIDANG KAJIAN
Bidang kajian dalam penelitian ini yaitu strategi dan desain pembelajaran, dengan menerapkan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak di kelas III SD Negeri 1 Dunggala Kabupaten Gorontalo.

C. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah proses memproduksi sistem nilai dan budaya kearah yang lebih baik, antara lain dalam pembentukan kepribadian, keterampilan dan perkembangan intelektual siswa. Dalam lembaga formal proses reproduksi sistem nilai dan budaya ini dilakukan terutama dengan mediasi proses belajar mengajar sejumlah mata pelajaran di kelas. Salah satu mata pelajaran yang turut berperan penting dalam pendidikan wawasan, keterampilan dan sikap ilmiah sejak dini bagi anak adalah mata pelajaran IPA.
Ilmu Pengetahuan Alam adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya. IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis olah manusia yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan manusia. Pembelajaran IPA berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh rahasia yang tak habis-habisnya. Khusus untuk IPA di SD hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu siswa secara alamiah.
Menurut pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bukan hanya bergantung lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan awal siswa. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata, hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Piaget yaitu belajar merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan yang melibatkan asimilasi, yaitu proses bergabungnya stimulus kedalam struktur kognitif. Bila stimulus baru tersebut masuk kedalam struktur kognitif diasimilasikan, maka akan terjadi proses adaptasi yang disebut kesinambungan dan struktur kognitif menjadi bertambah. Dengan demikian jelas bahwa tahap berfikir anak usia SD harus dikaitkan dengan hal-hal nyata dan pengetahuan awal siswa yang telah dibangun mereka dengan sendirinya. Pada saat pembelajaran IPA di kelas III SDN 1 unggala Kabupaten Gorontalo, mengenai bentuk- bentuk energi dan perubahannya yang diantaranya bentuk energi gerak, guru diawal pembelajaran tidak melakukan apersepsi, guru langsung menulis materi di papan tulis, kemudian siswa disuruh mancatat materi tersebut, setelah siswa mencatat guru langsung menjelaskan materi, ketika guru menjelaskan banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, mereka bergurau, ngobrol dengan teman- temannya. Bahkan ada siswa yang menaikan kakinya ke atas meja. Melihat kondisi kelas seperti itu guru langsung memberikan pertanyaan kepada siswa seputar materi, namun mereka terdiam dan tidak paham. Dalam proses pembelajaran guru juga tidak melakukan percobaan mengenai energi gerak, pembelajaran yang dilakukan guru tidak berpusat pada siswa. Pada saat guru melakukan evaluasi sebagian siswa tidak dapat menjawab soal evaluasi sehingga hasil evaluasi siswa pun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, yaitu nilainya dibawah KKM.
Dari hasil observasi pada siswa kelas III SDN 1 Dunggala ternyata tujuan pembelajaran masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Dari analisis masalah yang ada, ditemukanlah beberapa penyebab masalah, antara lain : pada awal pembelajaran guru tidak melakukan apersepsi, guru kurang membangkitkan motivasi terhadap pembelajaran, siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, dalam menyampaikan materi kurang menarik sehingga pembelajaran terasa membosankan dan dalam pembelajaran juga guru tidak melakukan percobaan mengenai energi gerak.
Pembelajaran yang terjadi di atas mengakibatkan siswa tidak paham tentang energi gerak dan siswa tidak berani mengungkapkan pendapatnya. Masih sering terjadi, dalam pembelajaran IPA guru mengharapkan siswa diam dengan sikap duduk tegak dan menghadap ke depan, sementara guru dengan fasih menceramahkan materi IPA. Pembelajaran demikian jelas bertentangan dengan hakikat anak dan pendidikan IPA itu sendiri. Pembelajaran IPA yang efektif dicirikan antara lain oleh tingginya kemampuan pembelajaran tersebut dalam menyajikan hakekat pendidikan IPA di SD yakni sebagai proses, produk dan sikap. Untuk mengatasi permasalahan di atas, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran IPA. Karena pembelajaran yang mengacu pada pandangan konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka, dengan kata lain siswa lebih berpengalaman untuk mengkonstruksikan sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.

D. RUMUSAN MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah penelitian tindakan kelas yaitu : Melihat gambaran penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak di kelas III SD Negeri 1 Dunggala Kabupaten Gorontalo

2. Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi masalah di atas, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran IPA, karena model ini merupakan salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif tersebut terjadi saat interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu saja, sehingga diperlukan perubahan/modifikasi struktur kognitif untuk mencapai kesimbangan. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain dan informasi itu manjadi milik mereka sendiri.

E. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan pertanyaan penelitian tindakan kelas yang terdapat dalam perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui gambaran penerapan model pembelajaran konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak di kelas III SD Negeri 1 Dunggala.
2. Untuk mengetahui bagaimana peningkatan kemampuan siswa dalam memahami energi gerak di kelas III SD Negeri 1 Dunggala.

F. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat bagi siswa, untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai energi gerak.
2. Manfaat bagi guru, untuk mengembangkan potensi guru dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran konstruktivisme.
3. Manfaat bagi sekolah, untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar.

G. HAKIKAT MODEL PEMBELAJARAN KONTRUKTIVISME
1. Pengertian
Model konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar diawali dengan terjadinya konflik kognitif (Karli, 2004 : 2). Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Konflik kognitif tersebut terjadi saat interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu saja, sehingga diperlukan perubahan/modifikasi struktur kognitif untuk mencapai keseimbangan, peristiwa ini akan terjadi secara berkelanjutan, selama siswa menerima pengetahuan baru.

2. Keuntungan dan Kelemahan model konstrktivisme
Keuntungan dan kelemahan dalam menggunakan model konstruktivisme Dalam penggunaan model konstruktivisme terdapat keuntungan yaitu :
1) Dapat memberikan kemudahan kepada siswa dalam mempelajari konsep IPA.
2) Melatih siswa berfikir kritis dan kreatif.
Adapun kelemahan pembelajaran konstruktivisme adalah :
1) Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ilmuan sehingga menyebabkan miskonsepsi.
2) Konstruktivisme menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda.
3) Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa.

3. Pembelajaran tentang Energi Gerak
Setiap benda yang melakukan kegiatan atau usaha memerlukan energi. Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Bentuk-bentuk energi antara lain energi gerak, panas, energi cahaya, energi listrik, energi bunyi, dan energi kimia. Energi gerak adalah energi yang dimiliki oleh benda yang sedang bergerak, energi gerak dimiliki oleh air dan angin.


H. HASIL PENGAMATAN
Dari hasil observasi, penulis membuat hopotesis bahwa, jika guru menggunakan model pembelajaran konstruktivisme dengan siswa melakukan percobaan mengenai energi gerak dan siswa berperan aktif dalam pembelajaran maka pemahaman siswa tentang energi gerak akan meningkat.

I. PEMBAHASAN
Tempat Penelitian Lokasi penelitian adalah SD Negeri 1 Dunggala, Kabupaten Gorontalo. Lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian karena sekolah ini telah mengunakan model pembalajaran paikem.
Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SD Negeri 1 Dunggala, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 12 siswa perenpuan.. Alasan peneliti memilih sampel kelas III yaitu karena pada saat observasi mereka melakukan praktikum sains dengan model konstruktivisme. Waktu Penelitian Penelitian tindakan kelas ini diperkirakan akan dilaksanakan pada 26 Mey 2010.

J. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : IPA
Kelas / Semester : III / 2 (dua)
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
Materi : Energi Dan Sumber Energi

a. Standar Kompetensi : Memahami berbagai cara gerak benda, hubungannya dengan energi dan sumber energi.


b. Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan hasil pengamatan tentang pengaruh energi panas, gerak getaran dalam kehidupan sehari-hari. Indikator : mendeskripsikan keberadaan energi melalui pengaruh yang ditimbulkan berdasarkan pengamatan.
c. Tujuan Pembelajaran :
o Setelah melakukan percobaan, siswa dapat mengamati bahwa air bisa menggerakan suatu benda.
o Setelah melakukan percobaan, siswa dapat meningkatkan pemahaman tentang energi gerak.
o Siswa dapat memberikan contoh manfaat energi gerak dalam kehidupan sehari-hari.
d. Materi, Media dan Sumber Belajar
o Materi : Energi gerak
o Media : Lembar Kerja Siswa (LKS). KTSP SD/MI 2006, Buku Paket Pandai Belajar Sains untuk SD kelas III. Penulis Ade Yeti Nuryantini. Penerbit Regina tahun 2004 hal 88.
e. Metode Pembelajaran
o Ceramah
o Tanya jawab
o Diskusi
o Percobaan
f. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal (+10 menit)
o Mengkondisikan siswa kearah pembelajaran dengan : Berdoa sebelum belajar, Mengecek kehadiran siswa, Membangkitkan minat siswa untuk belajar.
o Guru melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan “Pernahkah kalian pergi ke sungai?, “Apakah bergerak/mengalir air sungai itu?”
2. Kegiatan Inti (+ 60 menit)
o Siswa dibagi kedalam 5 kelompok (tiap kelompok terdiri dari 4-5 orang).
o Seminggu sebelum dilaksanakan pembelajaran tiap kelompok ditugaskan untuk membawa alat dan bahan untuk membuat kincir angin sederhana.
o Guru mengkondisikan siswa supaya duduk berkelompok.
o Siswa menyimak penjelasan guru tentang tugas yang harus diselesaikan dalam kelompoknya.
o Guru memberikan LKS kepada setiap kelompok.
o Masing-masing kelompok melakukan percobaan untuk membuktikan bahwa air dapat bergerak yaitu dengan membuat kincir air sederhana.
o Siswa berdiskusi untuk menyelesaikan tugas yang terdapat dalam LKS.
o Siswa bersama guru membahas LKS yang telah didiskusikan dalam kelompok.
o Siswa bersama guru menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari mengenai manfaat energi gerak.
o Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan apa yang telah dipalajari bersama.
o Guru melakukan evaluasi.
3. Kegiatan Akhir (+10 menit )
o Guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah dipalajari.
o Melakukan tindak lanjut.
4. Evaluasi
o Prosedur Evaluasi : Proses dan post test
o Bentuk Evaluasi : Unjuk Kerja dan tes tertulis
o Alat Evaluasi : Format penilaian dan soal

Butiran soal :
1. Tuliskan bentuk-bentuk energi !
2. Jelaskan apa yang dimaksud energi gerak!
3. Tuliskan/contoh bentuk energi yang dapat digerakan oleh air!

Kunci Jawaban
1. Bentuk-bentuk energi antara lain : energi gerak, energi panas, energi cahaya, energi listrik, energi bunyi, dan energi kimia.
2. Energi gerak adalah energi yang dimiliki oleh banda yang sedang bergerak.
3. Energi yang dapat digerakan oleh air adalah air terjun dapat menggerakan kincir air.

Gorontalo, Mey 2010
Mengetahui
Kepala Sekolah Guru Kelas


Karsum T. Mopangga A.Ma.Pd Yusuf Thalib

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar