SELAMAT DATANG DI BLOG MARGHARETA

SELAMAT DATANG DI BLOG MARGHARETA

Rabu, 09 Juni 2010

LAPORAN OBSERVASI MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW DI KELAS III SDN 1 DUNGGALA PADA PEMBELAJARAN SAINS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan IPTEK dari waktu ke waktu semakin pesat dan canggih didukung oleh arus globalisasi yang semakin hebat. Fenomena merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bertanah air. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan kreativitas pendidikan bangsa itu sendiri dan kompleknya masalah kehidupan menuntut Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan mampu berkompetisi. Selain itu pendidikan merupakan wadah kegiatan yang dapat dipandang sebagai pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermutu tinggi.
Pendidikan sains merupakan salah satu fondasi dari kemampuan sains dan teknologi. Pemahaman terhadap sains, dari kemampuan yang bersifat keahlian sampai kepada pemahaman yang bersifat apresiasi akan berhasil mengembangkan kemampuan sains dan teknologi yang cukup tinggi. IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dengan prosentase jam pelajaran yang lebih dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Ironisnya, matematika termasuk mata pelajaran yang tidak disukai. Banyak siswa yang takut akan pelajaran matematika karena menurut mereka IPA itu suatu pelajaran yang sulit untuk dipahami. Ketakutan–ketakutan tersebut tidak hanya dari dalam diri siswa akan tetapi juga dari ketidakmampuan guru dalam menciptakan situasi yang dapat membawa siswa tertarik pada pembelajaran IPA.
Mengingat pentingnya IPA dalam menumbuhkan generasi dengan kemampuan mengadopsi dan mengadakan inovasi Sains dan Teknologi di era globalisasi, maka tidak boleh dibiarkan adanya anak– anak muda yang buta matematika. Kebutaan yang dibiarkan akan menjadi suatu kebiasaan, membuat masyarakat kehilangan kemampuan berfikir secara disiplin dalam menghadapi masalah– masalah nyata.
Russefendi (1991: 138) menemukakan bahwa konsep di dalam IPA adalah ide atau gagasan yang memungkinkan kita untuk mengelompokkan obyek ke dalam contoh, dan bukan contoh. Atau dapat diartikan konsep IPA abstrak yang memungkinkan kita untuk mengelompokkan obyek atau kejadian. Sedangkan tujuan pembelajaran matematika adalah terbentuknya kemampuan bernalar pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis,logis, sistematis, memiliki sifat obyektif, jujur, disiplin dalam memecahkan permasalahan baik dalam bidang sains, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari- hari.
Namun kenyataan di lapangan saat ini belum sesuai dengan yang diharapkan. Hasil studi menyebutkan bahwa, meski adanya peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan namun pembelajaran dan pemahaman siswa pada beberapa materi pelajaran termasuk matematika menunjukkan hasil yang masih kurang. Pembelajaran yang cenderung textbook oriented serta metode ceramah yang merupakan metode konvensional memang cenderung abstrak dan kurang terkait dengan kehidupan sehari- hari sehingga konsep-konsep materi pelajaran kurang bisa untuk dipahami oleh peserta didik.
Pendekatan atau model belajar yang tepat dalam proses pembelajaran termasuk faktor faktor yang turut menentukan tingkat keberhasilan siswa. Pendekatan belajar dilakukan sebagai strategi yang dipandang tepat untuk memudahkan siswa memahami pelajaran dan juga belajar yang menyenangkan sehingga aktivitas siswa lebih nampak. Pendekatan pembelajaran tentu tidak harus kaku menggunakan pendekatan tertentu, tetapi sifatnya lugas dan terencana artinya memilih pendekatan disesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang dituangkan dalam perencanaan pembelajaran.
Mencermati hal tersebut di atas guru harus memilih model atau pendekatan yang tepat yang dapat meningkatkan iklim pembelajaran yang aktif yang bermakna dan siswa lebih menguasai dan memahami pelajaran sehingga hasil belajar siswa meningkat. Beberapa strategi dengan menerapkan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran tipe student teamsachievment division (STAD), Jigsaw dan model Snow Balling, Numbered Head Together (NHT) dan lain sebagainya. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Syaiful Sagala, 2005: 87).
Dari beberapa pendekatan kontekstual di atas peneliti mencoba menerapkan suatu stategi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Dimana dengan model pembelajaran ini siswa diharapakan dapat memiliki kemampuan untuk menentukan langkah–langkah dalam menyelesaikan soal IPA. Dalam pembelajaran ini siswa akan dikelompokkan dan mereka berdiskusi tentang materi yang diberikan kepada mereka. Dari masing–masing kelompok pastinya terdapat siswa yang mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih dibandingkan dengan siswa yang lain. Dari siswa yang mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih itu akan ditunjuk sebagai anggota tim ahli yang mempunyai tugas menerangkan materi yang diberikan oleh guru kepada siswa dalam kelompoknya sehingga teman kelompoknya jelas. Kemudian dari tiap– tiap kelompok akan mempresentasikan materi hasil diskusinya. Dengan diterapkannya model pembelajaran ini diharapkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan sains dapat meningkat. Dengan berpijak pada beberapa persoalan yang ada, maka hal itulah yang mendorong bagi peneliti untuk melakukan penelitian yang membahas penerapan pendekatan konstektual dengan model strategi pembelajaran Jigsaw dalam meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar IPA.
B. Identifikasi Masalah
Berdasar latar belakang yang telah diuraikan diatas ada beberapa masalah yang berkaitan dengan mutu pendidikan matematika.
Adapun masalah- masalah tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Masih rendahnya kemampuan siswa dalam memahami permasalahan matematika.
2. Rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika bukan hanya bersumber pada kurangnya kemampuan siswa tetapi juga dipengaruhi oleh adanya kelemahan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru.
3. Ada kemungkinan kesiapan dalam proses belajar mengajar masih kurang
4. Kemampuan siswa dalam mengkomunikasikan gagasan untuk pemecahan masalah sangat terbatas.
C. Pembatasan Masalah
Untuk mengatasi luasnya masalah yang dibahas dan kesalah pahaman maksud serta demi keefektifan dan keefisienan penelitian ini, peneliti membatasi masalah yang akan diteliti sebagai berikut:
1. Keaktifan siswa dalam belajar matematika dibatasi, yaitu keaktifan dalam bekerjasama dengan anggotanya, mengerjakan soal di depan kelas, mengajukan ide/tanggapan pada guru, memberi tanggapan jawaban siswa lain, membuat kesimpulan materi baik secara kelompok atau mandiri.
2. Hasil Belajar siswa pada bidang studi IPA dalam pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran tipe Jigsaw.
3. Materi penelitian dibatasi pada pokok bahasan lingkaran, sub pokok bahasan pengertian dan unsur-unsur lingkaran, keliling lingkaran, luas lingkaran dan hubungan sudut pusat, panjang busur dan luas juring dengan subyek penelitian adalah siswa SDN I Dunggala Kabupaten Gorontalo.
D. Perumusan Masalah
Secara spesifik permasalahan ini dapat dirinci menjadi pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Adakah peningkatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran tipe Jigsaw ?
2. Adakah peningkatan hasil belajar IPA melalui pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran tipe Jigsaw ?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan-tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui aktifitas siswa pada bidang studi IPA melalui penerapan pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran tipe Jigsaw.
2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa selama proses pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran tipe Jigsaw.

F. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Secara khusus, studi ini memberikan kontribusi kepada strategi pembelajaran IPA berupa pergeseran paradigma mengajar menjadi paradigma belajar dalam suasana yang gembira. Telah menjadi pandangan yang cukup mapan bahwa paradigma belajar dalam suasana yang gembira untuk memecahkan masalah IPA merupakan aspek yang essensial dalam pembelajaran matematika. Di sini, paradigma belajar dalam suasana gembira dipertajam dengan dimensi guru sebagai fasilitator sehingga stabilitas dan keterkendalian terjaga.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi lembaga pendidikan formal memberikan manfaat untuk mengembangkan kompetensi para calon guru di bidang materi pembelajaran, pengelolaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran mengingat kompetensi ini merupakan yang mendesak dengan diberlakukannya KTSP.
b. Bagi guru IPA, hasil penelitian dapat digunakan untuk menyelenggarakan layanan pembelajaran yang inovatif dan proses berpikir untuk menarik kesimpulan IPA bisa diaplikasikan untuk mengembangkan model-model pembelajaran lebih lanjut.
c. Bagi siswa, proses ini dapat meningkatkan kemampuan dalam bidang sains maupun secara umum kemampuan mengatasi permasalahan dalam hidupnya.
d. Bagi peneliti, sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan serta menambah wawasan, pengalaman dalam tahapan proses pembinaan diri sebagai calon terdidik.


BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian
A. Model Jigsaw
Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut dilaksanakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw yang merupakan suatu model pembelajaran yang dirancang supaya siswa mempelajari informasi divergen dan tingkat tinggi melalui kerja kelompok. Setiap kelompok mendapatkan suatu topik bahasan dan setiap anggota kelompok mencari informasi tantang isi satu sub topik yang dipelajari.
Sehubungan dengan hal tersebut, Slavin (dalam Yusuf, 2003:60) mengatakan bahwa untuk melaksanaan cooperative learning tipe jigsaw, disusun langkah-langkah pokok sebagai berikut; (1) pembagian tugas, (2) pemberian lembar ahli, (3) mengadakan diskusi, (4) mengadakan evaluasi, (5) memberi penghargaan.
B. Pendekatan Tematik
Pendekatan Tematik merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu siswa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa (Depdiknas, 2006).
C. Sains SD
Definisi mengenai Sains menurut Sardar (1987, 161) adalah sarana pemecahan masalah mendasar dari setiap peradaban. Tanpa Sains, lanjut Sardar (1987, 161) suatu peradaban tidak dapat mempertahankan struktur-struktur politik dan sosialnya atau memenuhi kebutuhankebutuhan dasar rakyat dan budayanya. Sebagai perwujudan eksternal suatu epistemologi, Sains membentuk lingkungan fisik, intelektual dan budaya serta memajukan cara produksi ekonomis yang dipilih oleh suatu peradaban. Secara singkat, Sains menurut Sardar (1987, 161) adalah sarana yang pada akhirnya mencetak suatu peradaban, dia merupakan ungkapan fisik dari pandangan dunianya.

2. Hasil Pengamatan
Data wawancara pada guru menunjukkan bahwa silabus yang digunakan adalah silabus tematik KTSP tahun 2006, yang berisi standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar. Untuk silabus tematik yang dilaksanakan dengan model Jigsaw, maka pelaksanaan kegiatan pembelajaran Sains dikaitkan dengan pelajaran lainnya misalnya IPA dengan mata pelajaran lain. Pelaksanaan silabus berbeda pada tiap sekolah karena sekolah memiliki kewenangan untuk menerapkan silabus dengan caranya masing- masing, hal ini dikarenakan siswa memiliki kemampuan berbeda-beda dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan guru, sehingga sekolah harus menyesuaikan pelaksanaan silabus agar semua siswa dapat memahami materi pelajaran dengan baik. RPP dengan model Jigsaw adalah RPP ( rencana pelaksanaan pembelajaran ) yang mengaitkan materi pelajaran dengan materi pelajaran lainnya, misalnya untuk RPP pada materi pelajaran Sains dikaitkan dengan materi lain. Penyusunan RPP berguna agar guru dapat memahami lebih dalam tentang materi pelajaran yang akan diajarkannya, selain itu penyusunan RPP harus teliti dan cermat agar guru tidak mengalami kesalahan mengaitkan materi antar mata pelajaran. RPP merupakan panduan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.
Satuan kegiatan harian adalah rencana kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru dan disusun setiap hari atau setiap kali pertemuan dengan siswa. Satuan kegiatan harian dengan model Jigsaw adalah rencana kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru untuk mewujudkan pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan di kelas. Penyusunan satuan kegiatan harian yang baik akan memudahkan guru dalam mengajar di kelas, karena guru telah merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilakukannya saat mengajar, sehingga guru dapat menggunakan waktu dengan efisien.

3.Pembahasan
Berdasarkan pengamatan awal yaitu sebelum diterapkan penelitian tindakan kelas berupa penerapan model pembelajaran Jigsaw, dan setelah dilakukan tes awal menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa kelas III SD Negeri I Dunggala sudah cukup bagus. Rata-rata hasil belajar sains siswa kelas TII sebelum diterapkan model pembelajaran jigsaw memang sudah cukup bagus, sebab guru sering menyuruh siswa untuk berlatih mengerjakan LKS, sehingga siswa lebih memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Selain itu, guru juga sering mengajukan pertanyaan pada siswa untuk mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi pelajaran yang diajarkan, setelah mengetahui tingkat pemahaman siswa maka guru dapat menyusun materi pelajaran agar lebih mudah dipahami siswa. Rata-rata hasil belajar siswa memang sudah cukup bagus tapi masih perlu ditingkatkan lagi, sebab materi pelajaran yang diajarkan guru semakin lama semakin susah, sehingga guru perlu menerapkan model pembelajaran jigsaw yang melibatkan siswa secara aktif dalam pelajaran, karena siswa yang aktif memiliki motivasi belajar Sains yang besar. Siswa yang memiliki motivasi belajar Sains yang besar akan rajin belajar agar dapat memahami materi pelajaran, hal ini menyebabkan siswa itu dapat meraih prestasi maksimal di kelas.
Data angket menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berminat belajar Sains dan menyukai belajar berkelompok. Penerapan pembelajaran jigsaw menjadikan suasana belajar menjadi lebih menyenangkan, hal ini membuat siswa menjadi lebih bersemangat belajar Sains. Siswa yang selama ini sudah aktif di kelas menjadi lebih aktif bertanya pada guru ketika mereka mengalami kesulitan memahami materi pelajaran. Selain itu siswa yang pasif dan jarang bertanya akhirnya juga termotivasi untuk menjadi lebih aktif seperti temantemannya.
Dari pembahasan di atas, dapat diketahui bahwa proses pembelajaran dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan, dan juga harus didukung oleh kemampuan guru menjadikan suasana pembelajaran menjadi lebih aktif, kreatif dan menyenangkan. Guru yang dapat menerapkan model pembelajaran jigsaw dengan baik akan menjadikan siswa lebih termotivasi untuk meraih prestasi yang maksimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran jigsaw mampu meningkatkan kreativitas para siswa sekaligus menjadikan mereka lebih aktif mengikuti pelajaran. Pembelajaran jigsaw juga membuat suasana kelas menjadi lebih
menyenangkan sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar Sains. Motivasi siswa yang besar untuk mempelajari Sains menjadikan hasil belajar mereka menjadi jauh lebih baik. Selain itu, guru juga dapat memberikan remidi pada siswa sehingga pemahaman siswa semakin meningkat. Suasana kelas yang menyenangkan kadang menjadikan siswa gaduh dan bercanda sendiri, untuk menenangkan siswa maka guru menggunakan metode menarik perhatian yaitu dengan cara guru memberi salam pada siswa yang lalu dijawab oleh siswa, sehingga perhatian siswa kembali terfokus pada pelajaran. Untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran maka model jigsaw harus dilaksanakan secara terus menerus, sehingga hasil pembelajaran dapat lebih optimal.
Hasil pembelajaran dengan menggunakan model jigsaw dapat diketahui dari hasil tes sebelum dan sesudah model jigsaw diterapkan, jika hasil tes menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran jigsaw itu berhasil. Menurut guru, siswa yang aktif adalah siswa yang rajin bertanya serta memperhatikan pelajaran dengan baik. Untuk mengetahui perkembangan kreatifitas siswa, guru membuat alat peraga yang menggambarkan ide pokok pelajaran Sains, siswa yang menggunakan alat peraga akan menjadi lebih kreatif sebab mereka dapat memahami sendiri ide pokok pelajaran sains. Guru juga membuat panduan yang berisi cara siswa melakukan berbagai percobaan Sains lewat penemuan
sendiri. Agar siswa tertarik mengikuti pelajaran, maka guru menerapkan pembelajaran sains yang disertai dengan percobaan sehingga siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan guru dan juga dengan temannya. Guru juga memperlihatkan gambar percobaan sains yang berwarna warni sehingga siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran.


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran serta perangkat dan setting Jigsaw dengan pendekatan Tematik Sains SD dapat diterapkan dengan cara guru bertindak sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran siswa, sehingga apabila dalam proses pembelajaran tersebut ada siswa yang mengalami kesulitan memahami pelajaran dapat langsung bertanya kepada guru.
Proses pembelajaran Jigsaw dimulai dengan membuat silabus untuk pelajaran Sains yang dikaitkan dengan pelajaran lainnya, lalu membuat RPP Sains yang digunakan guru sebagai panduan dalam mengajar dengan menggunakan model jigsaw, dan membuat rencana harian yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran sains setiap hari, yang berisi hal-hal yang dilakukan guru selama mengajar dan bertujuan untuk mewujudkan pembelajaran Sains yang aktif, kreatif dan menyenangkan bagi siswa.
Sedangkan untuk memantau perkembangan siswa, guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, sehingga lebih mudah dalam mengamati perkembangan siswa secara individual. Respon siswa terhadap model jigsaw dengan pendekatan Tematik Sains SD dapat diketahui dari hasil angket yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merespon positif pembelajaran sains, karena mereka setuju bahwa pelajaran yang diajarkan dengan model jigsaw lebih menyenangkan serta menjadikan mereka lebih aktif mengikuti pelajaran.
Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak menyukai pelajaran Sains yang disertai dengan bernyanyi, dan mereka lebih menyukai pelajaran Sains yang disertai dengan berhitung dan menggambar. Hal ini disebabkan karena saat bernyanyi, suasana kelas menjadi gaduh dan banyak siswa yang tidak menyukainya. Selain itu juga menunjukkan adanya peningkatan kreativitas siswa karena mereka menyatakan dapat mengerjakan soal-soal di LKS setelah mengikuti pelajaran dan dapat menemukan hal-hal baru di alam serta memanfaatkan ilmu sains untuk menciptakan kreasi yang baru. Penerapan model jigsaw pada pelajaran sains khususnya pada konsep Bagian Tubuh Hewan dan Tumbuhan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan oleh adanya peningkatan hasil belajar siswa secara kognitif.
B.Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka saran yang diberikan yaitu:
1. Model pembelajaran jigsaw menjadikan suasana kelas lebih menyenangkan tetapi guru harus tetap mengendalikan suasana kelas agar siswa tetap fokus pada pelajaran, dan tidak bercanda sendiri. Karena suasana kelas yang menyenangkan memang lebih gaduh maka guru harus dapat mengendalikan situasi kelas agar tidak terlalu gaduh, dan mengganggu kelas yang lain.
2. Guru harus terus memotivasi siswa dan memantau tingkat pemahaman siswa misalnya dengan memberikan pertanyaan kreatif kepada siswa, yang mendorong siswa berpikir kreatif untuk menjawabnya. Dengan memberikan pertanyaan yang kreatif maka siswa akan berusaha menjawab pertanyaan itu dengan pemikiran mereka sendiri.
3. Penerapan pembelajaran jigsaw yang menggunakan percobaan harus dilakukan secara efisien agar tidak menyita waktu pelajaran terlalu banyak, sehingga waktu yang tersisa dapat digunakan guru untuk menjelaskan hasil percobaan tersebut.
4. Siswa yang aktif dan kreatif biasanya akan mengajukan pertanyaan yang kritis pada gurunya, sehingga guru harus menguasai materi pelajaran agar mampu menjawab pertanyaan siswanya.
5. Sebelum menerapkan pembelajaran jigsaw sebaiknya guru menyusun silabus dan rancangan pembelajaran (RPP) dengan cermat, karena pembelajaran jigsaw itu mengaitkan satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, sehingga jika guru tidak cermat maka dapat terjadi kesalahan konsep materi pelajaran.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Mata Pelajaran : SAINS
Kelas/semester : III/ I
Materi Pokok : Lingkungan
Pertemuan / waktu : I-II / 2 x 30 menit



A. Kompetensi Dasar
o Membedakan ciri-ciri lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat berdasarkan pengamatan


B. Indikator
o Membedakan kondisi lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat.
o Mengidentifikasi penyebab pencemaran lingkungan.


C. Materi Essensial
Lingkungan Sehat dan lingkungan tidak sehat
o Lingkungan sehat (Hlm.51)
o Lingkungan tidak sehat (Hlm.52)


D. Metode
o ceramah dan diskusi


E. Media Belajar
o Buku SAINS SD Haryanto Erlangga Kelas III
o Koran, majalah


F. Rincian Kegiatan Pembelajaran Siswa
1. Pendahuluan
o Menyampaikan Indikator dan kompetensi yang diharapkan

1. Kegiatan Inti
o Membacakan materi alat-alat yang menghasilkan panas dan bunyi.
o Memahami peta konsep tentang lingkungan
o Melakukan kegiatan 2.1 Hlm.50
o Menyebutkan ciri-ciri lingkungan sehat
o Menjelaskan pentingnya memelihara lingkungan untuk kesehatan
o Menyebutkan ciri-ciri lingkungan tidak sehat
o Menyebutkan penyebab lingkungan tidak sehat
- Pencemaran tanah
- Pencemaran air
- Pencemaran udara

2. Penutup
o Memberikan kesimpulan bahwa lingkungan sehat harus dijaga setiap saat

3. Evaluasi
o Mengamati makhluk hidup dan tak hidup di lingkungan rumah



Gorontalo, Mey 2010

Mengetahui
Kepala Sekolah Guru Kelas




Karsum T. Mopangga A.Ma.Pd Yusuf Thalib

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar